Cuaca Kairo
sedang tidak menentu. Terkadang Panas, terkadang dingin. Menjadikan peran jaket
sebagai sesuatu yang penting, atau pula tak dibutuhkan. Perlu pertimbangan
matang-matang, antara mengenakan pakaian tebal, tipis, atau pun diantara keduanya.
Seharusnya
Penduduk Indonesia lebih bersyukur akan kondisi alam Indonesia yang relatif
stabil. Tidak ada musim dingin, dan tidak ada musim panas. Menjadi penengah
diantara keduanya. Senantiasa nyaman untuk dipakai berbagai aktifitas.
Di Negara-negara
4 musim seperti di sini, kadang cuaca menjadi kendala. Meskipun pada akhirnya
semua itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Tergantung bagaimana
mereka menyikapinya. Bisa menjadi hambatan, bisa juga menjadi peluang. Hambatan
karena memang udara dingin itu nikmat untuk dipakai tidur. Juga cuaca panas yang
bisa memecah konsentrasi belajar kita. Atau bisa juga menjadi Peluang bagi kita
untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Kairo… in
lam taqharha qaharatka. Kairo itu…. Jika kamu tidak mampu menaklukkannya, maka
dia yang akan menaklukkanmu. Begitulah perumpamaan yang sering aku dengar dari
beberapa guru dan kawan. Kairo itu memang penuh tantangan. Perlu srategi khusus
untuk menyiasatinya. Jangan banyak berharap jika kamu hanya membiarkannya
berjalan begitu saja seperti air yang mengalir. Karena kita tidak tahu,
meskipun kita berharap air itu mengarah ke sebuah lautan yang indah, toh bisa saja air itu justru mengalir menuju
sebuah septic tank.
Berbicara tentang
srategi belajar, aku pun punya srategi. Karena banyak hal yang menuntut
perhatianku. Mulai dari Keluarga, Hapalan Qur’an , Diktat Kuliah, kawan-kawan, juga
termasuk ” si dia ” yang mulai mewarnai hari-hari ku. Ya, “dia” yang beberapa pekan
ini mulai meminta perhatian lebih dariku. minta dikunjungi, dan bahkan minta kepastian dariku. Namanya KPMJB Mesir. Nama panjangnya
Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat di Mesir. Sebuah organisasi yang
mewadahi Masyarakat Jawa Barat yang berada di Mesir.
Selepas menjadi
panitia pada Sidang Permusyawaratan Anggota KPMJB, aku mendapatkan amanah
dari gubernur terpilih sebagai Bendahara umum. Sebuah posisi, yang kalau saja aku tidak diminta untuk
mendudukinya, aku tak akan memintanya. Banyak hal yang dipertimbangkan, telah
kuulas di tulisan sebelumnya. Yaitu memantapkan kembali hapalan qur’anku. 30
juz, yang tentu butuh perhatian lebih. Disamping itu, jadwal kuliah, talaqqi, dan
beberapa kesibukan lainnya.
Sebuah
pertimbangan pasti dibarengi sebuah konsekuensi. Bisa menjadi hambatan atau
justru menjadi Peluang. Sebagaimana banyak berbagai hal di dunia ini tak
seindah dengan yang dilihat kasat mata. Banyak Juga hal-hal yang tak serumit
kelihatannya. Ya, bagaimana pun itu. Selama tidak mengganggu tujuan awalku
datang jauh-jauh ke Mesir, yaitu belajar. It’s OK lah.
Sabtu, 11 April 2014 aku dan pejabat lainnya resmi dilantik oleh gubernur KPMJB
Akhirnya.... nama “si
dia” mulai kumasukkan dalam jadwal rutinitas harian, mingguan, bulanan, dan
tahunanku. Supaya semua konsentrasiku terbagi dengan baik, optimal, dan tidak
ada yang terzhalimi.
Kututup tulisan
ini dengan harapan.
Aku tak meminta
agar diringankan beban hidup ku, tapi kuminta agar Allah SWT senantiasa menguatkan
pundakku, mengokohkan langkahku, melapangkan dadaku, untuk memikul setiap beban. Memudahkanku setiap ada permasalahan, dan
membimbingku menuju jalan-Nya yang penuh keridhoan.
Rabbanaa
aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘azaabannar.
Ditulis di sekretariat
KPMJB Mesir.
Kairo, 14
April 2015
