Selasa, 27 Januari 2015

Hari-Hari Penuh Kejutan di Suriah



 Ini sedikit pengalamanku di Suriah 4 tahun yang lalu. Di hari-hari pertama yang sarat hikmah, kawan-kawan baru yang tidak semuanya menyenangkan, dan  adaptasi yang penuh kejutan...

Hari itu kegiatan belajar mengajar telah dimulai kembali, setelah sebelumnya libur pasca ujian dan libur ramadhan. kami para pelajar Indonesia mulai memasuki ruangan kelas masing masing, aku belajar di sebuah institusi keilmuan di Damaskus, ibu kota Suriah. Adalah Ma’had ad Dauly, sebuah lembaga yang mengajarkan para siswa dari berbagai Negara ilmu-ilmu keislaman dan bahasa arab. Dengan masa pendidikan selama 4 tahun ditambah kelas persiapan selama setahun. 

Pada awalnya pihak ma’had mengharuskanku untuk mengikuti kelas persiapan, namun setelah dilobi, dan mengikuti tes kembali, Alhamdulillah aku bisa langsung masuk shaff awwal (tingkat 1)  dengan syarat, jika hasil ujian di semester pertama ini tidak memuaskan maka aku akan diturunkan kembali ke kelas persiapan. “Oke, no problem” kataku dalam hati.   

Muwajjih (guru pembimbing) mengarahkan saya menuju sebuah kelas,  di sana saya mendapat bangku duduk paling depan bersama seorang kawan asal Indonesia juga. Setelah saya perhatikan ke setiap penjuru kelas, ternyata di kelas tersebut hanya terdapat 2 orang saja pelajar Indonesia. ya! cuman 2 orang! Yang lain berkebangsaan Turki, Australia, Cina, Rusia, Tunisia, Prancis, Tajikistan, Chechnya, Uzbekistan, kirghyzistan, Turkmenistan, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara benua Afrika.   
Saat itu aku masih beradaptasi dengan bahasa, dengan proses belajar mengajarnya, dan dengan segala situasi yang serba asing. Saya masih ingat, pelajaran pertamaku kala itu adalah hadits nabawi. Ustadz menerangkan dengan semangat dan meyakinkan, namun sayang... perkataanya begitu cepat, terlalu cepat bagi seorang pelajar baru  yang berbeda bahasa dengannya. 

Oke, Kuputuskan untuk mencatat setiap kata yang terdengar asing, untuk  kucari terjemahannya nanti. Kuperhatikan setiap penuturan sang ustadz dengan seksama, dan aku bertingkah seakan akan aku paham betul semua penjelasannya. (iya lah, gensi dong sama temen-temen yang lain. Masa cuman celingak-celingkuk doang? ya seenggakny aku agak ngangguk2in kepala gitu biar disangka ngerti, hehehehe). 

Tak lama kemudian, ustadz mengajukan pertanyaan kepadaku, “aduhh… kenapa harus aku sih yang ditanya?” ucapku dalam hati. Entah apa yang diucapkannya, aku  tidak dapat menangkap apa yang beliau ucapkan tadi, ucapannya begitu cepat!, . Aku tanya  kawanku sebangku, ”som, nanya apa sih ustadz tadi?” , “ga tau, fiz” jawabnya polos, ternyata dia pun merasakan apa yang kurasakan. Akhirnya kami pun hanya terdiam, duduk manis sambil menatap wajah sang ustadz. 

Ustadz hadits nabawi tersebut terlihat tersenyum, dan tiba2 dari terdengar suara sumbang dari arah belakang “huwa  laa yafham yaa ustaz (dia gak ngerti, tadz)” ujarnya. Dan teman-teman sekelas pun tertawa sesaat setelah celotehan itu. Saat itu aku benar-benar dibuatnya malu, aku bisa merasakan  intonasi yang  terdengar meremehkan itu. Belakangan  kutahu bahwa pelajar itu bernama  mi’roj, seorang pelajar berkewarganegaraan Tajikistan, salah satu negara pecahan uni soviet.

 Aku benar-benar kecewa, sakit hati, kesal, dan rasanya ingin membalas perbuatannya. Dalam hati  kuberkata ” awas kamu ya, liat aja nanti, biar aku buktiin kalo aku jauh lebih baik daripada kamu”. Kuakui, dalam berbahasa mereka memang sudah lebih terbiasa daripada aku, karena mereka telah melalui satu tahun penuh kelas persiapan bahasa. Tapi bagaimanapun, itu tidak menjamin bahwa hasil mereka kali ini akan lebih baik daripada aku, semuanya tergantung tingkat kerja keras dan doa kita di semester ini. 
Setelah peristiwa itu aku menjadi sangat termotivasi. Ternyata Allah memang punya rencana indah dibalik setiap kejadian yang kita alami. Setiap hari aku hampir tidak pernah menyia nyiakan waktu belajar. Di satu sisi, aku khawatir tidak bisa mengikuti pelajaran, kemudian mendapatkan nilai yang buruk, dan kembali ke kelas persiapan. Dan juga ingin membuktikan daya saingku diantara pelajar-pelajar asing lainnya. Disisi lain, aku pun termotivasi oleh kawan-kawan yang sangat haus akan ilmu, sehingga dimana-mana yang selalu menjadi pemandangan adalah aktivitas keilmuan. Bahkan Kala itu sampai-sampai aku merasa “koq 24 jam itu kayanya kurang ya”. Segala puji Allah yang telah menganugerahkan kami semangat ibadah yang begitu indah ini.
Hari demi hari berlalu,minggu demi minggu, bulan demi bulan , hingga tiba lah saatnya ujian. Saat saat penentuan, waktunya pembuktian, bahwa orang Indonesia memang berkualitas. Waktu yang tepat untuk  memberi pelajaran bagi "si menyebalkan"  bahwa tidak sepantasnya dia merendahkanku saat itu. Walhasil, Ujian yang menegangkan itu bisa ku lalui dengan baik, tentunya dengan doa dan kerja keras yang istiqomah sejak jauh-jauh hari sebelum ujian itu sendiri dimulai.
2 minggu setelahnya, hasil ujian bisa kami ketahui,  aku lantas bersegera untuk melihat lembar penilaian, melihat bagaimana hasil jerih payahku selama ini, sungguh saat-saat yang mendebarkan. Dan ketika kulihat, ternyata hasil ujianku terbilang baik, meskipun tidak menduduki posisi 3 teratas, setidaknya sudah menjadi awal yang baik bagi perjalanan menuntut ilmu yang masih panjang ini.
Di setiap semester, nilaiku selalu membaik, aku selalu ingat nasihat nabi Muhammad Saw. bahwa “orang beruntung itu adalah dia yang hari ininya lebih baik dari hari kemarin, dan hari esoknya lebih baik daripada hari ini”. Bahkan di tahun ke dua, aku termasuk siswa “mutafawwiqin” atau salah satu siswa bernilai tinggi,  dengan peringkat ke 4. Saat itu aku sangat bersyukur, karena kerja keras selama ini ternyata tidak sia-sia, Allah memang maha adil, Dia memberi hasil sesuai dengan usaha dan doa hambaNya, bahkan seringkali lebih.
Sejak hari itu, tidak pernah ada lagi kawan yang menganggapku kecil. Mi’roj yang dulu sering meremehkanku, kini mulai akrab, terlebih karena kami pun satu asrama dan berdekatan kamar. kami sering menjadi partner dalam bermain sepak bola, kami sering berbagi kisah, bergurau, dan yang uniknya, sekarang justru dia menjadi sering menanyakan pelajaran kepadaku!. hehehe. Ya Beginilah caraku untuk “balas dendam”, tidak perlu dengan cara yang kasar, dengan perbuatan buruk, ataupun ucapan yang menyakiti, cukuplah dengan cara yang lembut. 

Kalau anda memang tidak merasa lemah, ya tinggal buktikan saja bahwa anda memang kuat. Kalau anda memang tidak malas, ya tinggal dibuktikan saja bahwa anda adalah seorang yang rajin. Kali ini, saya merasa bahwa saya memang tidak bodoh, bahwa saya hanya perlu adaptasi beberapa saat untuk mengikuti pelajaran di kelas. Dan kali ini aku telah membuktikan kepada kawan-kawan dan kepada mi’roj kawanku si keras kepala,  bahwa aku memang mampu bersaing dengan mereka.
Aku makin akrab dengan kawan-kawan di kelas, sedikit demi sedikit aku mulai  memahami sifat dan karakter orang-orang asing. Bagaimana intonasi berbicara mereka yang terkadang seperti sedang marah, bagaimana cara bercanda mereka yang kadang tidak sesuai kebiasaan bercanda orang Indonesia, dan berbagai hal lain yang terasa sangat asing bagiku.
Negeri syam jadi terasa lebih indah, rasanya makin betah saja aku tinggal di sana, merasakan kehidupan di tengah keragaman budaya, kewarganegaraan, dan bahasa,. Merasakan manfaat ilmu dari para ulama di negeri ini, keikhlasan mereka, kecintaan mereka akan ilmu. Ramahnya masyarakat damaskus kepada para siswa asing, dan berbagai hal unik lainnya.  Kami jadi merasa begitu spesial berada ditengah-tengah mereka. 

Menatap Suriah dari Mesir


Sudah 2 bulan lebih aku berada di Mesir. Negeri yang unik, negeri seribu menara, negeri yang menyimpan banyak sejarah. Negeri dimana para nabi dan rosul pernah tinggal, namun juga negeri para penguasa lalim pernah berkuasa. Mesir memang masih menjadi salah satu tujuan favorit tempat melanjutkan studi   para pelajar Indonesia. Tahun ini saja sekitar 437-an mahasiswa yang lulus seleksi Kementrian agama berangkat ke mesir untuk kuliah, dan aku adalah satu diantara mereka. Bayangkan, setelah diseleksi saja sudah sebanyak itu, apalagi jika tanpa melalui seleksi, mungkin bisa mencapai angka ribuan, atau bahkan lebih.
 Al Azhar, sebuah universitas yang sudah tidak asing di mata masyarakat Indonesia, merupakan salah satu universitas tertua di dunia, yang telah melahirkan ratusan cendekiawan muslim, para ulama, dan para pengemban dakwah islam dari berbagai Negara. Dan mungkin itu lah yang menjadi salah satu daya tarik dari negeri ini, negeri kinanah, negeri unik penuh kejutan nan mempesona.
 Ini bukanlah perjalanan ke luar negeri perdanaku, sebelumnya  pernah merasakan bagaimana indahnya negeri syam, negeri yang diberkahi, negeri yang menjadi saksi kejayaan islam pada saat itu . Ibarat menatap Suriah dari Mesir. Rasanya mengunjungi Mesir seperti mengingat kembali bagaimana 4 tahun yang lalu kaki ini menapaki negeri syam.  Perjalanan yang luar biasa menakjubkan, membuat siapapun yang pernah mengalaminya pasti ingin mengulangnya kembali.
Usiaku masih 16 tahun saat itu, usia yang cukup muda untuk memulai safari ilmu mancanegara, menimba ilmu ke negeri orang. Doaku dahulu untuk bisa keliling dunia kini rasanya telah mulai terkabulkan. Saya selalu yakin bahwa keinginan yang kuat ditambah usaha yang maksimal, dan dimantapkan dengan doa, akan mewujudkan segala yang kita impikan. Sejak belajar di pondok pesantren, aku  memliki impian untuk melanjutkan studi ke timur tengah, karena yang ada di benakku, di kawasan itulah islam lahir, al qur’an diturunkan, para nabi dan rosul berdakwah, dan tentunya juga negeri yang berbahasa arab, bahasa utama penunjang seorang muslim untuk menyelami luasnya lautan kelimuan islam. 
Alhamdulillah, saat  kelas 3 Aliyah semester pertama, Allah mewujudkan mimpiku . Aku dinyatakan lulus seleksi untuk mengikuti program “ pengiriman santri ke luar negeri tahun 2010” kerjasama kementrian agama Republik Indonesia  dengan kementrian waqaf Republik Arab Suriah. Ternyata Allah lebih dahulu memilih negeri Syam untuku. Dan segala puji bagi-Nya yang telah memudahkanku untuk melewati 2 tahap seleksi kementrian agama di Bandung dan Jakarta. 

Sesuatu yang lebih menggembirakan lagi adalah, bahwa aku tidak perlu mengeluarkan sedikitpun biaya untuk keberangkatan, dan tentunya tidak perlu membebani orang tua dengan biaya ke luar negeri yang pastinya tidak sedikit. aku hanya perlu menyiapkan berbagai perlengkapan pribadi,  bekal hidup, dan tentunya persiapan mental menghadapi suasana yang akan serba asing.  
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin  aku bagi kepada kawan – kawan sekalian, insyaAllah akan  aku tuliskan di blog ini satu per satu.