Ini sedikit pengalamanku di Suriah 4 tahun yang lalu. Di hari-hari pertama yang sarat hikmah, kawan-kawan baru yang tidak semuanya menyenangkan, dan adaptasi yang penuh kejutan...
Hari itu kegiatan belajar mengajar telah dimulai kembali, setelah sebelumnya libur pasca ujian dan libur ramadhan. kami para pelajar Indonesia mulai memasuki ruangan kelas masing masing, aku belajar di sebuah institusi keilmuan di Damaskus, ibu kota Suriah. Adalah Ma’had ad Dauly, sebuah lembaga yang mengajarkan para siswa dari berbagai Negara ilmu-ilmu keislaman dan bahasa arab. Dengan masa pendidikan selama 4 tahun ditambah kelas persiapan selama setahun.
Pada awalnya pihak ma’had mengharuskanku untuk mengikuti kelas persiapan, namun setelah dilobi, dan mengikuti tes kembali, Alhamdulillah aku bisa langsung masuk shaff awwal (tingkat 1) dengan syarat, jika hasil ujian di semester pertama ini tidak memuaskan maka aku akan diturunkan kembali ke kelas persiapan. “Oke, no problem” kataku dalam hati.
Muwajjih (guru pembimbing) mengarahkan saya menuju sebuah kelas, di sana saya mendapat bangku duduk paling depan bersama seorang kawan asal Indonesia juga. Setelah saya perhatikan ke setiap penjuru kelas, ternyata di kelas tersebut hanya terdapat 2 orang saja pelajar Indonesia. ya! cuman 2 orang! Yang lain berkebangsaan Turki, Australia, Cina, Rusia, Tunisia, Prancis, Tajikistan, Chechnya, Uzbekistan, kirghyzistan, Turkmenistan, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara benua Afrika.
Hari itu kegiatan belajar mengajar telah dimulai kembali, setelah sebelumnya libur pasca ujian dan libur ramadhan. kami para pelajar Indonesia mulai memasuki ruangan kelas masing masing, aku belajar di sebuah institusi keilmuan di Damaskus, ibu kota Suriah. Adalah Ma’had ad Dauly, sebuah lembaga yang mengajarkan para siswa dari berbagai Negara ilmu-ilmu keislaman dan bahasa arab. Dengan masa pendidikan selama 4 tahun ditambah kelas persiapan selama setahun.
Pada awalnya pihak ma’had mengharuskanku untuk mengikuti kelas persiapan, namun setelah dilobi, dan mengikuti tes kembali, Alhamdulillah aku bisa langsung masuk shaff awwal (tingkat 1) dengan syarat, jika hasil ujian di semester pertama ini tidak memuaskan maka aku akan diturunkan kembali ke kelas persiapan. “Oke, no problem” kataku dalam hati.
Muwajjih (guru pembimbing) mengarahkan saya menuju sebuah kelas, di sana saya mendapat bangku duduk paling depan bersama seorang kawan asal Indonesia juga. Setelah saya perhatikan ke setiap penjuru kelas, ternyata di kelas tersebut hanya terdapat 2 orang saja pelajar Indonesia. ya! cuman 2 orang! Yang lain berkebangsaan Turki, Australia, Cina, Rusia, Tunisia, Prancis, Tajikistan, Chechnya, Uzbekistan, kirghyzistan, Turkmenistan, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara benua Afrika.
Saat itu aku masih beradaptasi dengan bahasa, dengan proses belajar
mengajarnya, dan dengan segala situasi yang serba asing. Saya masih ingat,
pelajaran pertamaku kala itu adalah hadits nabawi. Ustadz menerangkan dengan
semangat dan meyakinkan, namun sayang... perkataanya begitu cepat, terlalu cepat
bagi seorang pelajar baru yang berbeda bahasa dengannya.
Oke, Kuputuskan untuk mencatat setiap kata yang terdengar asing, untuk kucari terjemahannya nanti. Kuperhatikan setiap penuturan sang ustadz dengan seksama, dan aku bertingkah seakan akan aku paham betul semua penjelasannya. (iya lah, gensi dong sama temen-temen yang lain. Masa cuman celingak-celingkuk doang? ya seenggakny aku agak ngangguk2in kepala gitu biar disangka ngerti, hehehehe).
Tak lama kemudian, ustadz mengajukan pertanyaan kepadaku, “aduhh… kenapa harus aku sih yang ditanya?” ucapku dalam hati. Entah apa yang diucapkannya, aku tidak dapat menangkap apa yang beliau ucapkan tadi, ucapannya begitu cepat!, . Aku tanya kawanku sebangku, ”som, nanya apa sih ustadz tadi?” , “ga tau, fiz” jawabnya polos, ternyata dia pun merasakan apa yang kurasakan. Akhirnya kami pun hanya terdiam, duduk manis sambil menatap wajah sang ustadz.
Ustadz hadits nabawi tersebut terlihat tersenyum, dan tiba2 dari terdengar suara sumbang dari arah belakang “huwa laa yafham yaa ustaz (dia gak ngerti, tadz)” ujarnya. Dan teman-teman sekelas pun tertawa sesaat setelah celotehan itu. Saat itu aku benar-benar dibuatnya malu, aku bisa merasakan intonasi yang terdengar meremehkan itu. Belakangan kutahu bahwa pelajar itu bernama mi’roj, seorang pelajar berkewarganegaraan Tajikistan, salah satu negara pecahan uni soviet.
Aku benar-benar kecewa, sakit hati, kesal, dan rasanya ingin membalas perbuatannya. Dalam hati kuberkata ” awas kamu ya, liat aja nanti, biar aku buktiin kalo aku jauh lebih baik daripada kamu”. Kuakui, dalam berbahasa mereka memang sudah lebih terbiasa daripada aku, karena mereka telah melalui satu tahun penuh kelas persiapan bahasa. Tapi bagaimanapun, itu tidak menjamin bahwa hasil mereka kali ini akan lebih baik daripada aku, semuanya tergantung tingkat kerja keras dan doa kita di semester ini.
Oke, Kuputuskan untuk mencatat setiap kata yang terdengar asing, untuk kucari terjemahannya nanti. Kuperhatikan setiap penuturan sang ustadz dengan seksama, dan aku bertingkah seakan akan aku paham betul semua penjelasannya. (iya lah, gensi dong sama temen-temen yang lain. Masa cuman celingak-celingkuk doang? ya seenggakny aku agak ngangguk2in kepala gitu biar disangka ngerti, hehehehe).
Tak lama kemudian, ustadz mengajukan pertanyaan kepadaku, “aduhh… kenapa harus aku sih yang ditanya?” ucapku dalam hati. Entah apa yang diucapkannya, aku tidak dapat menangkap apa yang beliau ucapkan tadi, ucapannya begitu cepat!, . Aku tanya kawanku sebangku, ”som, nanya apa sih ustadz tadi?” , “ga tau, fiz” jawabnya polos, ternyata dia pun merasakan apa yang kurasakan. Akhirnya kami pun hanya terdiam, duduk manis sambil menatap wajah sang ustadz.
Ustadz hadits nabawi tersebut terlihat tersenyum, dan tiba2 dari terdengar suara sumbang dari arah belakang “huwa laa yafham yaa ustaz (dia gak ngerti, tadz)” ujarnya. Dan teman-teman sekelas pun tertawa sesaat setelah celotehan itu. Saat itu aku benar-benar dibuatnya malu, aku bisa merasakan intonasi yang terdengar meremehkan itu. Belakangan kutahu bahwa pelajar itu bernama mi’roj, seorang pelajar berkewarganegaraan Tajikistan, salah satu negara pecahan uni soviet.
Aku benar-benar kecewa, sakit hati, kesal, dan rasanya ingin membalas perbuatannya. Dalam hati kuberkata ” awas kamu ya, liat aja nanti, biar aku buktiin kalo aku jauh lebih baik daripada kamu”. Kuakui, dalam berbahasa mereka memang sudah lebih terbiasa daripada aku, karena mereka telah melalui satu tahun penuh kelas persiapan bahasa. Tapi bagaimanapun, itu tidak menjamin bahwa hasil mereka kali ini akan lebih baik daripada aku, semuanya tergantung tingkat kerja keras dan doa kita di semester ini.
Setelah peristiwa itu aku menjadi sangat termotivasi. Ternyata
Allah memang punya rencana indah dibalik setiap kejadian yang kita alami. Setiap
hari aku hampir tidak pernah menyia nyiakan waktu belajar. Di satu sisi, aku khawatir
tidak bisa mengikuti pelajaran, kemudian mendapatkan nilai yang buruk, dan
kembali ke kelas persiapan. Dan juga ingin membuktikan daya saingku diantara
pelajar-pelajar asing lainnya. Disisi lain, aku pun termotivasi oleh
kawan-kawan yang sangat haus akan ilmu, sehingga dimana-mana yang selalu
menjadi pemandangan adalah aktivitas keilmuan. Bahkan Kala itu sampai-sampai aku
merasa “koq 24 jam itu kayanya kurang ya”. Segala puji Allah yang telah
menganugerahkan kami semangat ibadah yang begitu indah ini.
Hari demi hari berlalu,minggu demi minggu, bulan demi bulan ,
hingga tiba lah saatnya ujian. Saat saat penentuan, waktunya pembuktian, bahwa
orang Indonesia memang berkualitas. Waktu yang tepat untuk memberi pelajaran bagi "si menyebalkan" bahwa tidak sepantasnya dia merendahkanku saat
itu. Walhasil, Ujian yang menegangkan itu bisa ku lalui dengan baik, tentunya
dengan doa dan kerja keras yang istiqomah sejak jauh-jauh hari sebelum ujian
itu sendiri dimulai.
2 minggu setelahnya, hasil ujian bisa kami ketahui, aku lantas bersegera untuk melihat lembar
penilaian, melihat bagaimana hasil jerih payahku selama ini, sungguh saat-saat
yang mendebarkan. Dan ketika kulihat, ternyata hasil ujianku terbilang baik,
meskipun tidak menduduki posisi 3 teratas, setidaknya sudah menjadi awal yang
baik bagi perjalanan menuntut ilmu yang masih panjang ini.
Di setiap semester, nilaiku selalu membaik, aku selalu ingat
nasihat nabi Muhammad Saw. bahwa “orang beruntung itu adalah dia yang hari ininya
lebih baik dari hari kemarin, dan hari esoknya lebih baik daripada hari ini”.
Bahkan di tahun ke dua, aku termasuk siswa “mutafawwiqin” atau salah satu siswa
bernilai tinggi, dengan peringkat ke 4.
Saat itu aku sangat bersyukur, karena kerja keras selama ini ternyata tidak sia-sia,
Allah memang maha adil, Dia memberi hasil sesuai dengan usaha dan doa hambaNya,
bahkan seringkali lebih.
Sejak hari itu, tidak pernah ada lagi kawan yang menganggapku
kecil. Mi’roj yang dulu sering meremehkanku, kini mulai akrab, terlebih karena
kami pun satu asrama dan berdekatan kamar. kami sering menjadi partner dalam
bermain sepak bola, kami sering berbagi kisah, bergurau, dan yang uniknya,
sekarang justru dia menjadi sering menanyakan pelajaran kepadaku!. hehehe. Ya Beginilah
caraku untuk “balas dendam”, tidak perlu dengan cara yang kasar, dengan
perbuatan buruk, ataupun ucapan yang menyakiti, cukuplah dengan cara yang
lembut.
Kalau anda memang tidak merasa lemah, ya tinggal buktikan saja bahwa anda memang kuat. Kalau anda memang tidak malas, ya tinggal dibuktikan saja bahwa anda adalah seorang yang rajin. Kali ini, saya merasa bahwa saya memang tidak bodoh, bahwa saya hanya perlu adaptasi beberapa saat untuk mengikuti pelajaran di kelas. Dan kali ini aku telah membuktikan kepada kawan-kawan dan kepada mi’roj kawanku si keras kepala, bahwa aku memang mampu bersaing dengan mereka.
Kalau anda memang tidak merasa lemah, ya tinggal buktikan saja bahwa anda memang kuat. Kalau anda memang tidak malas, ya tinggal dibuktikan saja bahwa anda adalah seorang yang rajin. Kali ini, saya merasa bahwa saya memang tidak bodoh, bahwa saya hanya perlu adaptasi beberapa saat untuk mengikuti pelajaran di kelas. Dan kali ini aku telah membuktikan kepada kawan-kawan dan kepada mi’roj kawanku si keras kepala, bahwa aku memang mampu bersaing dengan mereka.
Aku makin akrab dengan kawan-kawan di kelas, sedikit demi sedikit aku
mulai memahami sifat dan karakter
orang-orang asing. Bagaimana intonasi berbicara mereka yang terkadang seperti
sedang marah, bagaimana cara bercanda mereka yang kadang tidak sesuai kebiasaan
bercanda orang Indonesia, dan berbagai hal lain yang terasa sangat asing bagiku.
Negeri syam jadi terasa lebih indah, rasanya makin betah saja aku tinggal
di sana, merasakan kehidupan di tengah keragaman budaya, kewarganegaraan, dan
bahasa,. Merasakan manfaat ilmu dari para ulama di negeri ini, keikhlasan
mereka, kecintaan mereka akan ilmu. Ramahnya masyarakat damaskus kepada para
siswa asing, dan berbagai hal unik lainnya. Kami jadi merasa begitu spesial berada
ditengah-tengah mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar