Suara itu terdengar begitu merdu, menentramkan jiwa, menyusup ke dalam relung hati , membangkitkan gelora semangat. Mendengarnya mampu mengusir malas, membuang jauh aura negatif, melenyapkan segenap alasan klasik seorang mahasiswa perantauan.
Menelepon keluarga telah menjadi salah satu rutinitas saya. Karena mereka adalah motivator terbesar dalam hidup saya. Tanpa mereka mungkin tak akan ada episode kehidupan seorang Muhammad hafizh di negeri Mesir ini. Meskipun hanya sekedar menanyakan kabar, menceritakan kejadian yang dialami selama belakangan ini, ataupun hanya sekedar menanyakan sedang sibuk apa.
Umi, Abi, adik-adik, adalah anugerah terbesar dari Allah untuk saya. Menatap fotonya saja sudah menggetarkan jiwa. merekalah orang-orang yang paling berhak untuk saya cintai sepenuh hati. yang dengan mencintanya mengundang cinta suci, menjemput berkah ilahi.
Itulah kiranya yang membuat akun voip saya selalu terisi, karena dengan itu saya dapat berkomunikasi dengan orang tua kapanpun saya mau, tanpa harus menunggu orang yang dituju sama-sama sedang dalam keadaan online.
Diantara mereka, Umi lah yang selalu bercerita banyak hal, mulai dari hal-hal besar nan penting hingga cerita-cerita yang kalau mungkin orang lain mendengarkannya akan terdengar geli. Tapi tentu bagi saya semua itu adalah berharga, sekecil apapun informasi yang saya terima adalah informasi berharga. Umi selalu mampu menghadirkan kembali memori-memori lama sekaligus membuka fikiran akan masa depan. Curhatnya tentang anak-anak, tentang masakan di hari ini, tentang saya saat masa balita, begitu renyah untuk didengarkan.
Lain halnya dengan abi yang selalu memberi masukan, arahan, dan wejangan. Pengalaman hidup yang dipadukan dengan tantangan era global selalu menjadi tema penting obrolan kami selama menelepon. Namun apapun itu, abi selalu mendukung jalan hidup yang saya tempuh. Selama itu mengandung kebaikan, dan mendatangkan maslahat abi selalu mengaminkannya.
Berbeda dengan umi dan abi, obrolan dengan Fitri terasa lebih seperti kawan. Mungkin karena kami masih sama-sama kuliah, menghadapi tantangan yang tak jauh berbeda, sama-sama mahasiswa yang sedang mengejar prestasi juga berusaha sebisa mungkin untuk turut mengabdi, berbuat sesuatu untuk negeri. Keluhan akan tugas yang menumpuk, materi perkuliahan yang luar biasa, Uang saku yang pas-pasan, Jodoh yang masih misteri, dan segala permasalahan mahasiswa perantauan selalu menjadi bahan obrolan.
Adapun Hasna, kini ia kelas 3 SMA, masa yang dulu pernah saya alami sekitar 7 tahun silam. Masa ketika rata-rata orang seusia itu mulai memikirkan hendak melanjutkan kuliah kemana. dulu, Atas kuasa Allah, saya ditunjukkan jalan untuk melanjutkan studi ke Suriah. Entah bagaimana dengan Hasna, Wallahu A'lam. Obrolan dengan hasna benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi seorang kakak. Saya selalu ingin adik-adik lebih sukses, bahkan melampaui kakaknya. Motivasi belajar, ibadah, bakti, serta dibumbui canda tawa selalu menjadi topik pembahasan.
Terakhir Ihsan, si bungsu yang lahir saat saya sudah mulai beranjak dewasa. Karenanya, saya menjalani apa yang lazimnya orang tua lakukan terhadap anak. Menggendong, mengajarkan berjalan, mengajak jalan-jalan, membersihkan kotorannya, menghibur, memberi makan, dan lain sebagainya. Kini ia sudah kelas 5 SD, dan hampir menyelesaikan sekolah dasarnya. Pertanyaan yang pasti ditanyakannya di setiap percakapan telepon adalah "a kapan pulang?" dengan nada sundanya. Ya Allah, dalam hati saya kadang ingin berkata "maafin aa san, untuk ke sekian kalinya aa harus berjauhan dari Ihsan". Obrolan kami tidak panjang lebar. biasanya saya menanyakan pelajaran, sekolah, kegiatan sepak bolanya, karate, dan lain-lain.
Pesan saya bagi mahasiswa perantauan, jangan lupa menelepon keluarga, karena itu merupakan hal kecil yang dapat menjadi senyum di wajah mereka. Membuat kita kembali sadar, bahwa jauh di negeri tercinta, banyak yang sedang menanti. maka, selesaikan studi secepatnya, menuntut ilmulah sebaik-baiknya. Dari situ, kamu akan mendapatkan banyak pencerahan untuk hidup yang lebih bahagia dan berkualitas.
Terakhir Ihsan, si bungsu yang lahir saat saya sudah mulai beranjak dewasa. Karenanya, saya menjalani apa yang lazimnya orang tua lakukan terhadap anak. Menggendong, mengajarkan berjalan, mengajak jalan-jalan, membersihkan kotorannya, menghibur, memberi makan, dan lain sebagainya. Kini ia sudah kelas 5 SD, dan hampir menyelesaikan sekolah dasarnya. Pertanyaan yang pasti ditanyakannya di setiap percakapan telepon adalah "a kapan pulang?" dengan nada sundanya. Ya Allah, dalam hati saya kadang ingin berkata "maafin aa san, untuk ke sekian kalinya aa harus berjauhan dari Ihsan". Obrolan kami tidak panjang lebar. biasanya saya menanyakan pelajaran, sekolah, kegiatan sepak bolanya, karate, dan lain-lain.
Pesan saya bagi mahasiswa perantauan, jangan lupa menelepon keluarga, karena itu merupakan hal kecil yang dapat menjadi senyum di wajah mereka. Membuat kita kembali sadar, bahwa jauh di negeri tercinta, banyak yang sedang menanti. maka, selesaikan studi secepatnya, menuntut ilmulah sebaik-baiknya. Dari situ, kamu akan mendapatkan banyak pencerahan untuk hidup yang lebih bahagia dan berkualitas.



