Jumat, 03 Maret 2017

Jangan Lupa menelepon Keluarga!

   

     Suara itu terdengar begitu merdu,  menentramkan jiwa, menyusup ke dalam relung hati , membangkitkan gelora semangat. Mendengarnya mampu mengusir  malas, membuang jauh aura negatif, melenyapkan segenap alasan klasik  seorang mahasiswa perantauan.

     Menelepon keluarga telah menjadi salah satu rutinitas saya. Karena mereka adalah motivator terbesar dalam hidup saya. Tanpa mereka mungkin tak akan ada episode kehidupan seorang Muhammad hafizh di negeri Mesir ini. Meskipun hanya sekedar menanyakan kabar, menceritakan kejadian yang dialami selama belakangan ini, ataupun hanya sekedar menanyakan sedang sibuk apa. 
Umi, Abi, adik-adik, adalah anugerah terbesar dari Allah untuk saya. Menatap fotonya saja sudah menggetarkan jiwa. merekalah orang-orang yang paling berhak untuk saya cintai sepenuh hati. yang dengan mencintanya mengundang cinta suci, menjemput berkah ilahi. 

     Itulah kiranya yang membuat akun voip saya selalu terisi, karena dengan itu saya dapat berkomunikasi dengan orang tua kapanpun saya mau, tanpa harus menunggu orang yang dituju sama-sama sedang dalam keadaan online. 

     Diantara mereka, Umi lah yang selalu bercerita banyak hal, mulai dari hal-hal besar nan penting hingga cerita-cerita yang kalau mungkin orang lain mendengarkannya akan terdengar geli. Tapi tentu bagi saya semua itu adalah berharga, sekecil apapun informasi yang saya terima adalah informasi berharga. Umi selalu mampu menghadirkan kembali memori-memori lama sekaligus membuka fikiran akan masa depan. Curhatnya tentang anak-anak, tentang masakan di hari ini, tentang saya saat masa balita, begitu renyah untuk didengarkan.

     Lain halnya dengan abi yang selalu memberi masukan, arahan, dan wejangan. Pengalaman hidup yang dipadukan dengan tantangan era global selalu menjadi tema penting obrolan kami selama menelepon. Namun apapun itu, abi selalu mendukung jalan hidup yang saya tempuh. Selama itu mengandung kebaikan, dan mendatangkan maslahat  abi selalu mengaminkannya. 

     Berbeda dengan umi dan abi, obrolan dengan Fitri terasa lebih seperti kawan. Mungkin karena kami masih sama-sama kuliah, menghadapi tantangan yang tak jauh berbeda, sama-sama mahasiswa yang sedang mengejar prestasi juga berusaha sebisa mungkin untuk turut mengabdi, berbuat sesuatu untuk negeri. Keluhan akan tugas yang menumpuk, materi perkuliahan yang luar biasa, Uang saku yang pas-pasan,  Jodoh yang masih misteri, dan segala permasalahan mahasiswa perantauan selalu menjadi bahan obrolan.
  
     Adapun Hasna, kini ia kelas 3 SMA, masa yang dulu pernah saya alami sekitar 7 tahun silam. Masa ketika rata-rata orang seusia itu mulai memikirkan hendak melanjutkan kuliah kemana. dulu, Atas kuasa Allah, saya ditunjukkan jalan untuk melanjutkan studi ke Suriah. Entah bagaimana dengan Hasna, Wallahu A'lam. Obrolan dengan hasna benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi seorang kakak. Saya selalu ingin adik-adik lebih sukses, bahkan melampaui kakaknya. Motivasi belajar, ibadah, bakti, serta dibumbui canda tawa selalu menjadi topik pembahasan.

     Terakhir Ihsan, si bungsu yang lahir saat saya sudah mulai beranjak dewasa. Karenanya, saya menjalani apa yang lazimnya orang tua lakukan terhadap anak. Menggendong, mengajarkan berjalan, mengajak jalan-jalan, membersihkan kotorannya, menghibur, memberi makan, dan lain sebagainya. Kini ia sudah kelas 5 SD, dan hampir menyelesaikan sekolah dasarnya. Pertanyaan yang pasti ditanyakannya di setiap percakapan telepon adalah "a kapan pulang?" dengan nada sundanya. Ya Allah, dalam hati saya kadang ingin berkata "maafin aa san, untuk ke sekian kalinya aa harus berjauhan dari Ihsan". Obrolan kami tidak panjang lebar. biasanya saya menanyakan pelajaran, sekolah, kegiatan sepak bolanya, karate, dan lain-lain.

      Pesan saya bagi mahasiswa perantauan, jangan lupa  menelepon keluarga, karena itu merupakan hal kecil yang dapat menjadi senyum di wajah mereka. Membuat kita kembali sadar, bahwa jauh di negeri tercinta, banyak yang sedang menanti. maka, selesaikan studi secepatnya, menuntut ilmulah sebaik-baiknya. Dari situ, kamu akan mendapatkan banyak pencerahan untuk hidup yang lebih bahagia dan berkualitas. 

Kamis, 25 Juni 2015

Renungan di malam ke-8 Ramadhan



Ada kalanya hati ini merasa  sepi di tengah keramaian, merasa hampa di antara kerumunan orang, merasa tandus di kala derasnya obrolan manusia.  Betapa sering kedamaian hadir justru di kesendirian, saat tiada seorang pun kecuali aku dan tuhan. Oh…Betapa rindu jiwa ini akan kemesraan bersama Nya, sahutan akan seruanNya, menghayati  ketulusan kasih dan sayangNya.

Terkadang kesibukan melupakanku untuk mengingatMu. Bangga dengan kemampuan diri, bertumpu pada kuasa makhluk, dan akhirnya merasa cukup tanpa perlu nasehatMu. membicarakan agama namun tak mendapatkan esensi agama. Mempelajari islam tanpa cita rasa. Menghapal tanpa beramal.

Ya Allah…. Jangan biarkan aku terombang-ambing tanpa arah di samudera kehidupanMu ini. Bimbinglah aku dalam setiap gerak dan langkahku. Iringi aku di setiap aktivitasku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang sama sekali tak tahu tujuan tanpa arahanmu. Ibarat Seorang nelayan amatir dengan sebuah perahu sederhana di luasnya lautan kehidupan.  Kalau bukan karena pertolongan Allah pastilah tenggelam tertempa dahsyatnya ombak.

Kawan-kawan…..ingatkanlah aku di saat khilaf. Tegur aku ketika salah. Maafkanlah aku jika menyakiti. Karena aku hanyalah manusia biasa, yang jauh dari sempurna. Dekat dengan ketidakberdayaan. Rentan akan kesalahan.


Jadilah orang beruntung. Yang mengimani kebenaran, mengamalkan kebenaran, dan saling mengingatkan akan kebenaran. 


Kairo, 26 Juni 2015
studio LSGP - Pasangrahan KPMJB

Jumat, 19 Juni 2015

Imtihan



Sepertinya udah sekitar sebulan saya ga nulis di blog. Maklum lah,  musim ujian mah emang gitu. Semua terfokus untuk ujian dulu. Hati, pikiran dan tenaga benar-benar  dipersiapkan agar matang menghadapi ujian. Jalan-jalan dikurangi, main bola di-stop sementara, baca novel ditunda dulu. Pokonya sekiranya ada hal yang mengganggu ujian maka mau ga mau mesti dikesampingkan dahulu. 

Dalam islam ada yang dinamakan dengan “Fiqih Awlawiyyat” atau dalam bahasa indonesianya “Fiqih prioritas”. Seorang muslim dituntut untuk bijak dalam menentukan prioritasnya. Dalam kasus ini, saya lebih memprioritaskan dahulu untuk membaca , menghapal dan mengulang-ulang diktat kuliah yang ga sedikit. Semester ini ada 10 mata kuliah di Fakultas Ushuluddin tingkat I. AlQur’an, Tafsir tahlili, Qashashul Qur’an, Tauhid, Tasawuf, Ushul Da’wah, Hadits tahlili, Ulumul Hadits, Milal wa nihal, dan Bahasa Inggris. Yang pasti akan terasa berat jika baru mulai membacanya saat beberapa hari menjelang ujian.

Kita semua mungkin sudah familiar dengan istilah “SKS” yaitu Sistem Kebut Semalam. Di kalangan masisir (mahasiswa Indonesia Mesir) pun tentu ada, namun beda penerapan, menjadi “Sistem Kebut Sebulan”. Buat kalian yang akan menghadapi ujian, pokonya jangan coba2 deh sama yang namanya “Sistem Kebut Semalam” tanpa pernah membaca mata kuliah tersebut, minimal satu kali sebelumnya. Hampir bisa dipastikan bakal repot sendiri. Bagusnya tuh semua pelajaran dibaca jauh-jauh hari, dan kembali diulang sekaligus dihapal menjelang ujian.

Ujian memberi makna yang dalam dalam episode kehidupanku di mesir ini. Ujian mengingatkanku bahwa ternyata hidup ini ga asik kalo cuman datar-datar aja. Kita mesti mencari tantangan yang benar-benar menguji mental kita, menuntut usaha lebih dari yang biasanya, do’a yang lebih dari biasanya, ibadah yang lebih dari biasanya, dan optimisme yang lebih tinggi dari biasanya. Kita harus keluar dari zona nyaman kita. kenyamanan terkadang membuat kita terlena, enggan meningkatkan kemampuan, dan akhirnya cuek dengan masa depan.

Di masa-masa ujian kemaren, nampaknya tiap detik terasa amat sangat berharga. Entah bagaimana tanggapan mahasiswa lain, yang  jelas pada 3 minggu masa ujian itu saya ga suka kalo banyak terganggu hal ini-itu, yang memecah konsentrasi untuk belajar. Bahkan, ajakan main bola pun tak cukup ampuh untuk membuatku berpaling dari buku-buku pelajaran.  Terkecuali  amanat-amanat  sebagai seorang pengurus  KPMJB Mesir (Keluarga Paguyuban Masyarakat  Jawa Barat Mesir) yang mau tak mu harus ditunaikan.

Ujian, kalo dipikir-pikir indah ternyata ya. Kemampuan kita benar-benar diuji. Ketajaman berpikir kita terus terasah, dan yang lebih hebatnya lagi, bisa mengubah kebiasaan seseorang. Percaya ga percaya, di masa-masa ujian hampir setiap menitnya dihiasi dengan  buku. Setiap tidur pasti di samping kepala terdapat buku, tidak lama setelah bangun tidur buka buku lagi, sambil masak baca buku, di bis kota baca buku, menunggu antrean sambil baca buku. Waaaah, pokonya kerasa banget jadi mahasiswanya. 

Ujian juga membuat seorang hamba lebih dekat dengan tuhannya. Bagaimana tidak, aliran doa tercurahkan di setiap saat. Karena Kekhawatiran seringkali membuat seorang hamba mencari ketenangan dengan mengadu pada Nya. Tak cukup disitu, kualitas ibadah seorang hamba pun meningkat. Karena bagaimana Allah akan suka jika penghambaan kita kepadaNya pas-pas an. Karena hampir smua rahasia sukses  senior-senior saya  yang berhasil di Mesir adalah seperti itu, rajin-rajin shalat malam, shalat dhuha, shaum sunnah, dan ibadah-ibadah lainnya.

Alhamdulillah  ujian termin II telah usai. dimulai sejak hari sabtu, 16 Mei 2015 hingga Sabtu 6 Juni 2012 kemaren. Ujian di 10 mata kuliah telah tuntas selama 3 minggu.  mudah-mudahan kebiasaan-kebiasaan baik di masa ujian bertahan meski di hari- hari biasa, dan bahkan bisa meningkat. Mengingat kita sudah berada di bulan sya’ban, dan tinggal beberapa hari menjelang bulan Ramadhan, bulan yang dinanti-nanti oleh umat muslim. Mudah-mudahan pula kita semua bisa istiqomah di jalan yang benar, dan menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Amiin.

Kairo, 8 Juni 2015

Selasa, 14 April 2015

"dia" yang mulai menambah warna hidupku di Mesir



Cuaca Kairo sedang tidak menentu. Terkadang Panas, terkadang dingin. Menjadikan peran jaket sebagai sesuatu yang penting, atau pula tak dibutuhkan. Perlu pertimbangan matang-matang, antara mengenakan pakaian tebal,  tipis, atau pun diantara keduanya.  

Seharusnya Penduduk Indonesia lebih bersyukur akan kondisi alam Indonesia yang relatif stabil. Tidak ada musim dingin, dan tidak ada musim panas. Menjadi penengah diantara keduanya. Senantiasa nyaman untuk dipakai berbagai aktifitas.

Di Negara-negara 4 musim seperti di sini, kadang cuaca menjadi kendala. Meskipun pada akhirnya semua itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Tergantung bagaimana mereka menyikapinya. Bisa menjadi hambatan, bisa juga menjadi peluang. Hambatan karena memang udara dingin itu nikmat untuk dipakai tidur. Juga cuaca panas yang bisa memecah konsentrasi belajar kita. Atau bisa juga menjadi Peluang bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh. 

Kairo… in lam taqharha qaharatka. Kairo itu…. Jika kamu tidak mampu menaklukkannya, maka dia yang akan menaklukkanmu. Begitulah perumpamaan yang sering aku dengar dari beberapa guru dan kawan. Kairo itu memang penuh tantangan. Perlu srategi khusus untuk menyiasatinya. Jangan banyak berharap jika kamu hanya membiarkannya berjalan begitu saja seperti air yang mengalir. Karena kita tidak tahu, meskipun kita berharap air itu mengarah ke sebuah lautan yang indah, toh  bisa saja air itu justru mengalir menuju sebuah septic tank.

Berbicara tentang srategi belajar, aku pun punya srategi. Karena banyak hal yang menuntut perhatianku. Mulai dari Keluarga,  Hapalan Qur’an , Diktat Kuliah, kawan-kawan, juga termasuk ” si dia ” yang mulai mewarnai hari-hari ku. Ya, “dia” yang beberapa pekan ini mulai meminta perhatian lebih dariku. minta dikunjungi, dan bahkan minta kepastian dariku. Namanya KPMJB Mesir. Nama panjangnya Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat di Mesir. Sebuah organisasi yang mewadahi Masyarakat Jawa Barat yang berada di Mesir. 

Selepas menjadi panitia pada Sidang Permusyawaratan Anggota KPMJB, aku mendapatkan amanah dari gubernur terpilih sebagai Bendahara umum. Sebuah posisi, yang kalau saja aku tidak diminta untuk mendudukinya, aku tak akan memintanya. Banyak hal yang dipertimbangkan, telah kuulas di tulisan sebelumnya. Yaitu memantapkan kembali hapalan qur’anku. 30 juz, yang tentu butuh perhatian lebih. Disamping itu, jadwal kuliah, talaqqi, dan beberapa kesibukan lainnya.

Sebuah pertimbangan pasti dibarengi sebuah konsekuensi. Bisa menjadi hambatan atau justru menjadi Peluang. Sebagaimana banyak berbagai hal di dunia ini tak seindah dengan yang dilihat kasat mata. Banyak Juga hal-hal yang tak serumit kelihatannya. Ya, bagaimana pun itu. Selama tidak mengganggu tujuan awalku datang jauh-jauh ke Mesir, yaitu belajar. It’s OK lah.

Sabtu, 11 April 2014 aku dan pejabat lainnya resmi dilantik oleh gubernur KPMJB
. Disaksikan oleh MPA, presiden PPMI Mesir, juga segenap warga KPMJB Mesir.

Akhirnya.... nama “si dia” mulai kumasukkan dalam jadwal rutinitas harian, mingguan, bulanan, dan tahunanku. Supaya semua konsentrasiku terbagi dengan baik, optimal, dan tidak ada yang terzhalimi.

Kututup tulisan ini dengan harapan.

Aku tak meminta agar diringankan beban hidup ku, tapi kuminta agar Allah SWT senantiasa menguatkan pundakku, mengokohkan langkahku, melapangkan dadaku,  untuk memikul setiap beban.  Memudahkanku setiap ada permasalahan, dan membimbingku menuju jalan-Nya yang penuh keridhoan.

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘azaabannar.

Ditulis di sekretariat KPMJB Mesir.
Kairo, 14 April 2015

Kamis, 26 Februari 2015

Jawa Cup




            Kali ini aku akan  sedikit bercerita tentang Pengalamanku main bola di Mesir.  


Emangnya penting ya? Hhe. buatku sih iya, penting. Menjadi bagian dari sebuah tim sepak bola merupakan suatu pengalaman yang sangat berkesan. 

            Sepakbola memang salah satu olah raga favoritku, dan mungkin juga favorit mayoritas anak-anak cowo. Bermula sejak SD dan terus berlanjut hingga memasuki bangku kuliah. 

            Menimba ilmu di Mesir tidak lantas menghapuskan hobiku bermain sepak bola, hobi itu masih terus kuganderungi. Bahkan sekalipun  cuaca di Mesir terkadang agak ekstrim. Bagiku main bola itu…… bisa sedikit menghibur diri ketika pikiran sedang ga karuan, atau menghilangkan kejenuhan. Dan juga satu lagi, Main bola bisa menjaga tubuh agar tetap sehat, insyaAllah.

            Akhir-akhir ini Mahasiswa Indonesia di Mesir sedang ramai membicarakan Jawa Cup, yaitu kejuaraan sepakbola antar kekeluargaan se-pulau Jawa-Madura. Diikuti oleh 6 tim dari masing-masing kekeluargaan. Yaitu kekeluargaan Banten,  Jakarta,  Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Berlangsung selama kurang lebih 1 bulan.

            Di Mesir, setiap Mahasiswa Indonesia diharuskan terdata di kekeluargaannya masing-masing, berdasarkan daerah domisili di Indonesia, kemudian di input datanya oleh konsuler. Aku tinggal di Purwakarta, Jawa Barat. Maka, otomatis aku bergabung dengan Paguyuban Masyarakat Jawa Barat, atau biasa dikenal dengan KPMJB.

            KPMJB punya yang namanya Siliwangi FC, tim sepak bola kesayangan warga Jawa Barat di Mesir. (coba Bayangin, timnya aja disayang, apalagi pemainnya…hehehe). Merupakan salah satu klub peserta Pada event Jawa Cup ini, sekaligus runner up di tahun  lalu.

            Sebelumnya aku sudah bercerita bahwa aku bergabung dengan Siliwangi FC. Banyak Pelajaran yang aku dapat selama beberapa kali menjalani latihan dan 3 Pertandingan kemarin. Banyak hal-hal baru yang kudapatkan selama sepak terjangku di Siliwangi FC, diantaranya adalah sebagai berikut :

            Pertama, aku belajar untuk Percaya teman, dan menjaga kepercayaannya. Dalam Pertandingan sepak bola, ketika kita mendapat bola, kita mau tidak mau harus mempercayakan bola tersebut untuk diberikan kepada rekan satu tim kita. Ga mungkin dong kita bawa terus sendirian. Kita gulirkan bola ke arahnya dan kita percayakan bahwa dia pun bisa meneruskan bola  kepada  rekan satu tim lainnya. sehingga diharapkan bisa mengasilkan sebuah gol. Sebaliknya, kita juga harus bisa meyakinkan rekan satu tim kita, bahwa kita bisa menjaga bola tersebut agar tidak terenggut oleh tim lawan.

            Kedua, aku belajar untuk tenang tapi pasti menghadapi rintangan. Dalam sepakbola ketenangan sangat perlu untuk dimiliki setiap pemain. Tanpa ketenangan permainan akan kacau, dan formasi akan berantakan. Ini aku rasakan di beberapa pertandingan Siliwangi kemarin. Mungkin salah satu sebabnya karena aku jarang sekali mengikuti pertandingan, hanya sebatas main-main saja.  Jadi, Ketika mendapat bola yang terpikirkan saat itu adalah langsung memberikan kepada kawan, dan karena kurang tenang terkadang bola pun malah justru direbut lawan. Memang,  diperlukan sekali ketenangan, dan tindakan tepat di setiap keadaan. Dengan kepala dingin akan selalu ada solusi bagi setiap permasalahan, insyaAllah.

            Ketiga, aku belajar percaya diri dan bermental juara. Sepertinya, Ini merupakan hal terpenting dalam dunia persepak bola-an. Ya!  Kita harus Percaya akan kemampuan kita, dan yakin bahwa menjadi juara adalah hak setiap orang, tidak terkecuali. Tidak sedikit, tim yang sebenarnya hebat namun tidak dapat mencetak gol, dan akhirnya kalah dalam pertandingan. Dan tidak sedikit pula, tim yang biasa-biasa aja tapi dengan mental juaranya bisa memenangkan pertandingan.

            Keempat, aku belajar untuk terus menambah ilmu dan meningkatkan kemampuan. Nah, disinilah pentingya latihan, di situ kelemahan kita bisa diketahui dan diperbaiki. Dan ketika kita yakin dengan kemampuan kita, kita pun akan lebih percaya diri di setiap pertandingan.

                        Kelima, Aku belajar untuk sportif. Menang kalah itu biasa dalam suatu permainan. Coba bayangin kalo kedua tim sama-sama menang, atau sama-sama kalah. Ga rame kan? Harus ada salah satu yang menang, dan salah satu yang kalah. Ketika menang tetap rendah hati. Dan ketika kalah ga usah kecewa dan tetap semangat. Itu hanyalah sebatas kemenangan yang tertunda bung! Masih ada banyak pertandingan di depan.

              ke-5 poin inilah yang sangat kurasakan selama mengikuti Jawa Cup, mungkin memang ada pelajaran lain yang bisa diambil, tapi rasanya tidak sepenting ke 5 hal di atas.  Dan itu semua berlaku tidak hanya dalam sepak bola saja, tapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Allah punya banyak cara untuk mengajari manusia akan arti kehidupan. Ada ayat yang tersurat atau  biasa dikenal dengan istilah Qouliyyah, ada juga ayat kauniyyah atau bahasa biasa disebut Kauniyyah. Kita mesti pinter-pinter membacanya.

            Semua yang ada di dunia dan apa yang terjadi pada kita, yakinlah, pasti ada hikmahnya. Baik itu menyenangkan atau pun tidak menyenangkan. Allah tau apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Ada tabir yang mesti kita singkap untuk mengetahui apa yang ada dibaliknya. 

            Oh iya, ada poin penting yang harus kamu tau, aku ke Mesir bukan untuk main bola ya. Tapi aku main bola, agar  bisa tetap  enjoy menjalani hidup di Mesir. Hhe. Tujuan utama tetap belajar, tapi ya… boleh lah kali-kali kita refreshing dengan main bola. ^_^

            Kalau ada yang mau menambahkan silahkan tulis di kolom komentar ya….
           
Kairo, 27 Januari 2015