Sepertinya udah sekitar sebulan saya ga nulis di blog.
Maklum lah, musim ujian mah emang gitu.
Semua terfokus untuk ujian dulu. Hati, pikiran dan tenaga benar-benar dipersiapkan agar matang menghadapi ujian.
Jalan-jalan dikurangi, main bola di-stop sementara, baca novel ditunda dulu.
Pokonya sekiranya ada hal yang mengganggu ujian maka mau ga mau mesti
dikesampingkan dahulu.
Dalam islam ada yang dinamakan dengan “Fiqih Awlawiyyat”
atau dalam bahasa indonesianya “Fiqih prioritas”. Seorang muslim dituntut untuk
bijak dalam menentukan prioritasnya. Dalam kasus ini, saya lebih
memprioritaskan dahulu untuk membaca , menghapal dan mengulang-ulang diktat
kuliah yang ga sedikit. Semester ini ada 10 mata kuliah di Fakultas Ushuluddin
tingkat I. AlQur’an, Tafsir tahlili, Qashashul Qur’an, Tauhid, Tasawuf, Ushul
Da’wah, Hadits tahlili, Ulumul Hadits, Milal wa nihal, dan Bahasa Inggris. Yang
pasti akan terasa berat jika baru mulai membacanya saat beberapa hari menjelang
ujian.
Kita semua mungkin sudah familiar dengan istilah “SKS” yaitu
Sistem Kebut Semalam. Di kalangan masisir (mahasiswa Indonesia Mesir) pun tentu
ada, namun beda penerapan, menjadi “Sistem Kebut Sebulan”. Buat kalian yang
akan menghadapi ujian, pokonya jangan coba2 deh sama yang namanya “Sistem Kebut
Semalam” tanpa pernah membaca mata kuliah tersebut, minimal satu kali sebelumnya.
Hampir bisa dipastikan bakal repot sendiri. Bagusnya tuh semua pelajaran dibaca
jauh-jauh hari, dan kembali diulang sekaligus dihapal menjelang ujian.
Ujian memberi makna yang dalam dalam episode kehidupanku di
mesir ini. Ujian mengingatkanku bahwa ternyata hidup ini ga asik kalo cuman
datar-datar aja. Kita mesti mencari tantangan yang benar-benar menguji mental
kita, menuntut usaha lebih dari yang biasanya, do’a yang lebih dari biasanya,
ibadah yang lebih dari biasanya, dan optimisme yang lebih tinggi dari biasanya.
Kita harus keluar dari zona nyaman kita. kenyamanan terkadang membuat kita
terlena, enggan meningkatkan kemampuan, dan akhirnya cuek dengan masa depan.
Di masa-masa ujian kemaren, nampaknya tiap detik terasa amat
sangat berharga. Entah bagaimana tanggapan mahasiswa lain, yang jelas pada 3 minggu masa ujian itu saya ga
suka kalo banyak terganggu hal ini-itu, yang memecah konsentrasi untuk belajar.
Bahkan, ajakan main bola pun tak cukup ampuh untuk membuatku berpaling dari
buku-buku pelajaran. Terkecuali amanat-amanat
sebagai seorang pengurus KPMJB
Mesir (Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat Mesir) yang mau tak mu harus
ditunaikan.
Ujian, kalo dipikir-pikir indah ternyata ya. Kemampuan kita
benar-benar diuji. Ketajaman berpikir kita terus terasah, dan yang lebih hebatnya
lagi, bisa mengubah kebiasaan seseorang. Percaya ga percaya, di masa-masa ujian
hampir setiap menitnya dihiasi dengan
buku. Setiap tidur pasti di samping kepala terdapat buku, tidak lama
setelah bangun tidur buka buku lagi, sambil masak baca buku, di bis kota baca
buku, menunggu antrean sambil baca buku. Waaaah, pokonya kerasa banget jadi
mahasiswanya.
Ujian juga membuat seorang hamba lebih dekat dengan
tuhannya. Bagaimana tidak, aliran doa tercurahkan di setiap saat. Karena Kekhawatiran
seringkali membuat seorang hamba mencari ketenangan dengan mengadu pada Nya. Tak
cukup disitu, kualitas ibadah seorang hamba pun meningkat. Karena bagaimana
Allah akan suka jika penghambaan kita kepadaNya pas-pas an. Karena hampir smua rahasia
sukses senior-senior saya yang berhasil di Mesir adalah seperti itu,
rajin-rajin shalat malam, shalat dhuha, shaum sunnah, dan ibadah-ibadah
lainnya.
Alhamdulillah ujian
termin II telah usai. dimulai sejak hari sabtu, 16 Mei 2015 hingga Sabtu 6 Juni
2012 kemaren. Ujian di 10 mata kuliah telah tuntas selama 3 minggu. mudah-mudahan kebiasaan-kebiasaan baik di
masa ujian bertahan meski di hari- hari biasa, dan bahkan bisa meningkat.
Mengingat kita sudah berada di bulan sya’ban, dan tinggal beberapa hari
menjelang bulan Ramadhan, bulan yang dinanti-nanti oleh umat muslim.
Mudah-mudahan pula kita semua bisa istiqomah di jalan yang benar, dan menjadi
orang yang sukses dunia dan akhirat. Amiin.
Kairo, 8 Juni 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar