Orang-orang terlihat mencari
pintu gerbang keberangkatan sesuai dengan yang tertera pada boarding pass nya
masing-masing, para petugas tampak sibuk melayani para pengunjung, melayani siapapun
yang meminta tolong, dan menanyakan informasi. Petugas imigrasi bandara setia melayani dan mengawasi perizinan keluar-masuk
kawasan AbuDhabi. Ramainya suara
manusia, menandakan bahwa ada ratusan orang
di bandara tersebut. Bandara internasional Abu Dhabi nampaknya tidak
pernah sepi akan pengunjung, bandara raksasa nan megah di ibu kota Uni Emirat
Arab.
Dari Jakarta aku dan kawan-kawan menggunakan maskapai Etihad Airways,
maskapai milik Uni Emirat Arab. Itu mengharuskan kami untuk transit di Bandara
Abu Dhabi, dan dilanjutkan menuju Mesir. Aku tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 7
Pagi, setelah 6 jam perjalanan di atas udara. Kemudian check in kembali untuk
melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional Kairo, mesir.
Aku mengikuti prosedur, untuk antre, melewati pemeriksaan metal
detector, pemeriksaan paspor, dan juga boarding pass. Tepat di belakangku
berdiri seorang pria berkebangsaan mesir, berperawakan besar, brewok, dan
nampaknya kurang ramah. "serem amat ni orang, pasti orangnya ga asik" ujarku dalam hati. Saat hendak melalui pemeriksaan paspor dan boarding
pass, antrean dibagi menjadi dua, kelas ekonomi dan kelas bisnis. Petugas
memberikan isyarat agar para penumpang dengan tiket bisnis berpindah ke sebelah
kanan, namun tak seorang pun menyahut, mungkin karena saat itu memang tidak ada
penumpang dengan tiket bisnis.
Pria mesir di belakangku nampaknya hendak berpindah ke loket sebelah, namun terhalangi olehku dan barang bawaanku. Dia berkata dengan nada tinggi, mengisyaratkanku untuk maju, atau pindah ke sebelah kanan saja, karena kosong. Karena kesal, dengan wajah tanpa senyum dan tanpa menjawab ucapannya, aku pun pindah ke sebelah kanan, melewati pemeriksaan, dan menelusuri lorong menuju pesawat terbang. Ternyata dugaan itu benar! dia memang tidak ramah dan tidak bersahabat!.
Aku menyesuaikan nomor kursi dengan nomor yang tertera di boarding pass, tak perlu waktu lama, aku pun menemukan tempat itu.
Pria mesir di belakangku nampaknya hendak berpindah ke loket sebelah, namun terhalangi olehku dan barang bawaanku. Dia berkata dengan nada tinggi, mengisyaratkanku untuk maju, atau pindah ke sebelah kanan saja, karena kosong. Karena kesal, dengan wajah tanpa senyum dan tanpa menjawab ucapannya, aku pun pindah ke sebelah kanan, melewati pemeriksaan, dan menelusuri lorong menuju pesawat terbang. Ternyata dugaan itu benar! dia memang tidak ramah dan tidak bersahabat!.
Aku menyesuaikan nomor kursi dengan nomor yang tertera di boarding pass, tak perlu waktu lama, aku pun menemukan tempat itu.
Betapa terkejutnya aku ketika ternyata yang duduk bersampingan
denganku adalah orang mesir yang tadi membentakku. Dalam hati kuberkata “wah,
rasanya akan menjadi perjalanan yang membosankan”. Karena masih tersimpan betul
di benakku bagaimana tidak ramahnya dia ketika di luar pesawat tadi. Tapi tak
lama kemudian, hati kecilku berkata “ yang sudah biarlah berlalu, husnuzhon aja
deh, kali aja dia orangnya asik, mungkin tadi dia sedang lelah, atau galau”. Dia duduk
tepat di samping jendela dan aku tepat di sampingnya. Saya coba membuka
percakapan disertai senyuman.
“Assalamu’alaikum…,
izzayyak yaa basya! (Assalamu’alaikum, apa kabar, bro?)”
“wa’alaikumsalam
warahmatullah, Alhamdulillah quwaisy (Wa’alaikumsalam warahmatullah,
Alhamdulillah baik)”
“Ana
hafizh, wa hadhratak? ( nama Saya Hafizh, dan kamu?) “
‘Ana
Muhammad, Muhammad Ali (nama saya Muhammad, lengkapnya Muhammad Ali)”
“Enta
mashri? (Kamu orang Mesir ya?)”
“Aiwah,
ana mashri (ya, saya orang mesir)”
“yaa
salaam, mishr ummud dunya, wa sanazuuruha al aan! (waah, mesir itu induk peradaban dunia, dan
kita akan mengunjunginya sekarang!)”
“hahaha,
aiwah, ahlan wa sahlan yaa shadiiq (hahaha, iya, Selamat datang, kawan)”
Ternyata dia orangnya asik juga untuk diajak ngobrol, anggapan saya
bahwa dia menyebalkan sekejap sirna setelah dia membalas senyumku di awal
pembicaraan. Perkiraan bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang
membosankan terbantahkan ketika kami mengobrol, dan saling bertanya banyak hal
tentang Mesir, Indonesia, dan banyak hal lainnya. Dia ternyata bekerja di Oman
dan hendak pulang liburan ke kampung halamannya di mesir. Kami membicarakan
banyak hal, mulai membicarakan keindahan mesir, Sejarah panjang mesir sejak
zaman firaun, para nabi, hingga terkini.
“Anta
tadrus fii mishr? (kamu lagi belajar di mesir ya?)”
“Laa,
bal saadruusu al aan fii mishr (engga, saya baru aja mau belajar di mesir)”
“fii
gamiatil Azhar? (di Universitas al Azhar, ya?)”
“Aiwah
fii gaamiatil Azhar (ya, di universitas al Azhar)”
“enta
bitatkalim lughoh mashriyyah, Lazim annaka tolib hunaak. (kamu bicara denga
bahasa mesir, Pasti kamu emang lagi belajar di sana ya?”
‘bas
aqro’ min internet wa, adrusuha, hehehe ( saya cuman baca di internet dan saya pelajari
koq, hehehe)”
‘Aiwah,
lugoh mishriyya sahlah, bas takallam katsiir ma’a mashriyyin (o gitu, bahasa
mesir gampang koq, kamu tinggal banyak interaksi aja sama orang mesir)”
“Aiwah,
haadir ! hehehehe (oke, siap bos, hehehe)”
Muhammad
Ali mulai menunjukkan dan menjelaskan kepadaku pemandangan indah di luar
jendela, mulai dari hamparan bukit pasir, bukit Sinai, terusan suez, sungai
nil, dan pemandang indah lainnya. Asyiknya percakapan membuat perjalanan ini
begitu menyenangkan, hingga akhirnya kami memasuki kota kairo, itu berarti
pesawat segera bersiap untuk pendaratan. Kami berpisah di Bandara, dia pergi
menuju rumahnya, dan aku pun pergi menuju kawasan distrik 10 bersama
kawan-kawanku.
Ternyata aku telah salah menilai orang, itu karena prasangka
burukku dan ketergesaanku dalam mengambil kesimpulan. Aku mendapat pelajaran
dari perjalanan kali ini, bahwa Husnuzhan (berbaiksangka) lebih indah daripada
suuzhan (berburuksangka). Suuzhan itu penuh akan misteri, kegundahan, dan
kekhawatiran. Sedangkan Husnuzhan lebih menenangkan hati, lebih disukai Allah, dan tidak ada yang
terzhalimi. Sungguh, hidup ini penuh dengan ilmu, bagi mereka yang mau
mengambil pelajaran.

Lanjutkan berkarya anak muda!!!
BalasHapusSiap....grak!!! Hhe
Hapus