Kamis, 05 Februari 2015

Pelajaran dari Perjalanan singkat Abu Dhabi - Kairo



Orang-orang  terlihat mencari pintu gerbang keberangkatan sesuai dengan yang tertera pada boarding pass nya masing-masing, para petugas tampak sibuk melayani para pengunjung, melayani siapapun yang meminta tolong, dan menanyakan informasi. Petugas imigrasi bandara setia melayani dan mengawasi perizinan keluar-masuk kawasan AbuDhabi.  Ramainya suara manusia, menandakan bahwa ada ratusan orang  di bandara tersebut. Bandara internasional Abu Dhabi nampaknya tidak pernah sepi akan pengunjung, bandara raksasa nan megah di ibu kota Uni Emirat Arab.
Dari Jakarta aku dan kawan-kawan menggunakan maskapai Etihad Airways, maskapai milik Uni Emirat Arab. Itu mengharuskan kami untuk transit di Bandara Abu Dhabi, dan dilanjutkan menuju Mesir. Aku tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 7 Pagi, setelah 6 jam perjalanan di atas udara. Kemudian check in kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju bandara internasional Kairo, mesir.
Aku mengikuti prosedur, untuk antre, melewati pemeriksaan metal detector, pemeriksaan paspor, dan juga boarding pass. Tepat di belakangku berdiri seorang pria berkebangsaan mesir, berperawakan besar, brewok, dan nampaknya kurang ramah. "serem amat ni orang, pasti orangnya ga asik" ujarku dalam hati. Saat hendak melalui pemeriksaan paspor dan boarding pass, antrean dibagi menjadi dua, kelas ekonomi dan kelas bisnis. Petugas memberikan isyarat agar para penumpang dengan tiket bisnis berpindah ke sebelah kanan, namun tak seorang pun menyahut, mungkin karena saat itu memang tidak ada penumpang dengan tiket bisnis.

 Pria mesir di belakangku nampaknya hendak berpindah ke loket sebelah, namun terhalangi olehku dan barang bawaanku. Dia berkata dengan nada tinggi, mengisyaratkanku untuk maju, atau pindah ke sebelah kanan saja, karena kosong. Karena kesal, dengan wajah tanpa senyum dan tanpa menjawab ucapannya, aku pun pindah ke sebelah kanan, melewati pemeriksaan, dan menelusuri lorong menuju pesawat terbang. Ternyata dugaan itu benar! dia memang tidak ramah dan tidak bersahabat!. 

Aku menyesuaikan nomor kursi dengan  nomor yang tertera di boarding pass, tak perlu waktu lama, aku pun menemukan tempat itu.
Betapa terkejutnya aku ketika ternyata yang duduk bersampingan denganku adalah orang mesir yang tadi membentakku. Dalam hati kuberkata “wah, rasanya akan menjadi perjalanan yang membosankan”. Karena masih tersimpan betul di benakku bagaimana tidak ramahnya dia ketika di luar pesawat tadi. Tapi tak lama kemudian, hati kecilku berkata “ yang sudah biarlah berlalu, husnuzhon aja deh, kali aja dia orangnya asik, mungkin tadi dia sedang lelah, atau galau”. Dia duduk tepat di samping jendela dan aku tepat di sampingnya. Saya coba membuka percakapan disertai senyuman.
“Assalamu’alaikum…, izzayyak yaa basya! (Assalamu’alaikum, apa kabar, bro?)”
 
“wa’alaikumsalam warahmatullah, Alhamdulillah quwaisy (Wa’alaikumsalam warahmatullah, Alhamdulillah baik)”
“Ana hafizh, wa hadhratak? ( nama Saya Hafizh, dan kamu?) “
‘Ana Muhammad, Muhammad Ali (nama saya Muhammad, lengkapnya Muhammad Ali)”
“Enta mashri? (Kamu orang Mesir ya?)”
“Aiwah, ana mashri (ya, saya orang mesir)”
“yaa salaam, mishr ummud dunya, wa sanazuuruha al aan!  (waah, mesir itu induk peradaban dunia, dan kita akan mengunjunginya sekarang!)”
“hahaha, aiwah, ahlan wa sahlan yaa shadiiq (hahaha, iya, Selamat datang, kawan)”
Ternyata dia orangnya asik juga untuk diajak ngobrol, anggapan saya bahwa dia menyebalkan sekejap sirna setelah dia membalas senyumku di awal pembicaraan. Perkiraan bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang membosankan terbantahkan ketika kami mengobrol, dan saling bertanya banyak hal tentang Mesir, Indonesia, dan banyak hal lainnya. Dia ternyata bekerja di Oman dan hendak pulang liburan ke kampung halamannya di mesir. Kami membicarakan banyak hal, mulai membicarakan keindahan mesir, Sejarah panjang mesir sejak zaman firaun, para nabi, hingga terkini.
“Anta tadrus fii mishr? (kamu lagi belajar di mesir ya?)”
“Laa, bal saadruusu al aan fii mishr (engga, saya baru aja mau belajar di mesir)”
“fii gamiatil Azhar? (di Universitas al Azhar, ya?)”
“Aiwah fii gaamiatil Azhar (ya, di universitas al Azhar)”
“enta bitatkalim lughoh mashriyyah, Lazim annaka tolib hunaak. (kamu bicara denga bahasa mesir, Pasti kamu emang lagi belajar di sana ya?”
‘bas aqro’ min internet wa, adrusuha, hehehe ( saya cuman baca di internet dan saya pelajari koq, hehehe)”
‘Aiwah, lugoh mishriyya sahlah, bas takallam katsiir ma’a mashriyyin (o gitu, bahasa mesir gampang koq, kamu tinggal banyak interaksi aja sama orang mesir)”
“Aiwah, haadir ! hehehehe (oke, siap bos, hehehe)”
            Muhammad Ali mulai menunjukkan dan menjelaskan kepadaku pemandangan indah di luar jendela, mulai dari hamparan bukit pasir, bukit Sinai, terusan suez, sungai nil, dan pemandang indah lainnya. Asyiknya percakapan membuat perjalanan ini begitu menyenangkan, hingga akhirnya kami memasuki kota kairo, itu berarti pesawat segera bersiap untuk pendaratan. Kami berpisah di Bandara, dia pergi menuju rumahnya, dan aku pun pergi menuju kawasan distrik 10 bersama kawan-kawanku. 
Ternyata aku telah salah menilai orang, itu karena prasangka burukku dan ketergesaanku dalam mengambil kesimpulan. Aku mendapat pelajaran dari perjalanan kali ini, bahwa Husnuzhan (berbaiksangka) lebih indah daripada suuzhan (berburuksangka). Suuzhan itu penuh akan misteri, kegundahan, dan kekhawatiran. Sedangkan Husnuzhan lebih menenangkan hati,  lebih disukai Allah, dan tidak ada yang terzhalimi. Sungguh, hidup ini penuh dengan ilmu, bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.  

2 komentar: